KEPOMPONG PEMBUSUKAN

Hampir seminggu lebih saya buntu. Menulis malas, makan tidak nafsu tetapi untung mandi masih mau. Beberapa pesanan tulisan blog dari beberapa sahabat tak saya kerjakan. Asli, pikiran saya mandeg. Ide nyaris tidak muncul. Sepercik dua percik gagasan memang ada. Tetapi gairah untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan tidak ada sama sekali.

Sore itu tiba-tiba saya menerima sebuah sms dari seorang sahabat. Dia mengatakan sedang busuk. Kok kayak tempe aja, busuk, kata saya.

Sahabat yang mengirim sms ini adalah sahabat lama saya yang waktu saya masih tinggal di Jogja dia banyak memberi dukungan moril kepada saya. Dan ketika saya mendapati sms nya yang bernada putus asa, saya pun merasa wajib membantunya. Lalu komunikasi lewat sms-sms yang berbalasan pun dimulai.

Dalam sms nya, dia bercerita bahwa dia sedang merasa ‘busuk’. Hidup makin tidak seru dan tak ada semangat. Masalah menumpuk, tetapi dia sendiri tidak tahu pasti apa. Dan saya juga tidak tahu mengapa dia memakai kata ‘busuk’ untuk melukiskan keadaannya. Saya menyarankan kepadanya untuk menemui sahabat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Lucunya, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak punya sahabat  yang bisa dia percaya enam tahun terakhir ini. ( Saya tersenyum membaca smsnya. Jadi saya termasuk dalam sahabat yang tidak bisa dia percaya untuk mendengarkan masalahnya.)

Lalu saya memberinya saran lagi untuk rela menerima situasi tersebut sampai masa pembusukan itu selesai dan selanjutnya menyiapkan diri untuk masa pembusukan berikutnya. Dia setuju. Tetapi, dia menegaskan bahwa masalahnya adalah masalah basi yang masih saja terjadi setiap waktu. Makanya dia merasa semakin busuk.

Saya mengangkat kedua alis saya sehingga kening saya yang sudah mulai keriput menjadi semakin berkerut. Dengan (mencoba) bijak, saya mengatakan, bahwa kebusukan tak selalu buruk. Keju, tempe dan yoghurt juga buah dari pembusukan. Tetapi saya tahu bahwa pembusukan yang dimaksudnya adalah sebuah kebuntuan dalam hidup. Sebuah Cul de sac. Jalan buntu yang pasti sangat mengganggu. Karena akhirnya dia mengirim pesan singkat kepada saya. Meskipun saya bukan teman yang cukup dia percaya untuknya berbagi cerita tentang masalah yang sedang mengganggunya.

Waktu saya kanak-kanak, saya senang mengamati ulat, kepompong dan kupu-kupu. Akibat mengamati ulat yang menggerogoti habis tanaman terong dan tomat nenek saya, saya jadi gatal-gatal. Lalu bagaimana bisa, ulat, binatang (atau serangga?) kecil sebesar kelingking dan gemuk berbulu yang bikin saya gatal-gatal itu bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah? Ternyata jawabannya adalah: kepompong.

Ya, sebelum bertransformasi menjadi kupu-kupu yang cantik dan gagah, ulat-ulat itu berubah menjadi kepompong dulu. Apakah sejak semula mereka memang ingin menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu? Saya tak yakin. Kalau boleh memilih, mereka mungkin ingin langsung menjadi kupu-kupu yang indah dan menghisap nektar daripada menjadi ulat-ulat gemuk yang harus menyantap daun dan sering dipatuk ayam.

Tetapi Tuhan sudah mengatur hidup menjadi demikian. Ulat harus menjadi kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu. Manusia harus melewati bayi, kanak-kanak dan remaja untuk menjadi dewasa. Dan untuk menjadi dewasa pun, perlu melalui ‘pembusukan-pembusukan’. Menghadapi masalah dan persoalan. Itulah kepompong-kepompong yang harus kita lalui sebagai individu untuk menjadi semakin bijak dan dewasa.

Sama seperti sahabat saya yang mengirim sms kepada saya sore itu dan menjerit bahwa dia sedang busuk, saya pun pernah mengalami. Tetapi sore itu saya sudah menjadi kupu-kupu. Saya merasa hari itu sedang menjadi manusia seutuhnya. Tetapi saya harus siap, besok-besok, akan ada siklus pembusukan lagi yang harus saya lalui untuk menjadi manusia yang semakin kaya.

Sahabat, mari kita nikmati saja pembusukan ini bersama-sama. Anggap saja kita sedang berada dalam kepompong pembusukan yang akan menyulap kita menjadi manusia yang semakin dewasa.

(Jakarta, 2 Agustus 2008. Untuk sahabat saya Z)

                            

AFGAN, EKSTRAVAGANZA DAN LAGI LAGI...KORUPTOR DAN SAYA

Nonton Ekstravaganza di Trans TV Sabtu 19 Juli 2008, saya benar-benar jatuh bangun karena melepaskan tawa saya karena kekocakan Aming, Indra Birowo, Edrik, VJ Cathy, dkk. Di tengah kritikan banyak pihak khususnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang betapa tidak mendidiknya tontonan satu itu, Ekstravaganza tetap maju terus. Meski sudah mendapatkan surat peringatan kedua, agar mengubah konsep tayangannya, tim kreatif Ekstravaganza tetap mempertahankan formula ajaibnya. Yang menurut saya justru makin gila dan asyik diikuti. Tim kreatif dan para pemainnya seperti mengejek semua pihak yang mengkritik mereka dengan joke, lawakan dan akting yang lebih vulgar.

Kemunculan penyanyi muda berbakat Afgan, dalam segmen bincang-bincang yang dipandu Sogi, benar-benar saya nikmati sebagai sebuah penyegaran. Anak muda bersuara indah itu ternyata sopan sekali. Santun. Dia seperti perawan di sarang penyamunnya para personil Ekstra yang super duper ‘kacau’. Dia begitu inosens. Sedangkan Aming muncul sebagai Eva Ceria (plesetan dari Eva Celia, artis muda yang digosipkan sebagai pacar Afgan). Kemudian disusul Edrik yang memerankan sosok gadis oriental. (Konon, Afgan lebih tertarik pada tipe gadis oriental.) Afgan menghadapi kedua tokoh transeksual itu dengan santun dan dewasa. Tidak sok jaim atau menjaga jarak. Salut, Afgan.

Usai acara, saya yang masih terengah-engah karena tawa saya terkuras sepanjang acara, berpikir, wah, kalau tayangan itu dihentikan, bagaimana nasib saya? (hahaha) Saya yakin, para orang tua yang sebel terhadap acara itu pasti muntah-muntah setelah acara usai. KPI makin sewot terhadap Tora dkk. Mereka sudah terlanjur mencap Ekstravaganza memberi pengaruh buruk pada anak-anak.

Kok begitu ya?

Di Jogja, sejak pertengahan tahu delapan puluhan, diberlakukan Jam Belajar Siswa pk. 19.00-21.00. Aturan jam belajar yang masih awet sampai sekarang tersebut diharapkan mampu membendung kebiasaan nongkrong para siswa dan mahasiswa di DIY. Dan tentunya mendorong mereka untuk lebih rajin belajar dan berprestasi. Tapi siapapun yang mencanangkan itu, pasti tidak tahu bahwa beberapa dekade kemudian, jam belajar tersebut adalah prime time tayangan-tayangan televisi yang disiarkan oleh televisi-televisi swasta. Mereka tidak menduga bahwa di jam-jam itulah, spot iklan banyak terisi. Tapi yang pasti mereka adalah para visioner yang hebat, yang merasa bahwa pendidikan anak-anak adalah juga tanggung jawab mereka.

Ketika saya membaca bahwa sejumlah artis senior mengkritik habis beberapa tayangan televisi, termasuk Ekstravaganza, saya bertanya-tanya. Kok, lagi-lagi, orang-orang di negeri ini suka sekali mencari kambing hitam ya. Sogi memang chubby dan Ence memang gelap. Tetapi mengambinghitamkan sebuah acara karena ketidakmampuan orangtua mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tontonan adalah sebuah kekonyolan, apabila kemudian acara-acara tersebut diancam akan dihentikan.

Menurut saya, Esktravaganza ( saya suka sekali acara ini, jadi saya tidak menyebut yang lain) lahir dari sebuah proses kreatif. Dan sebagai produk kreatif, ia terus mencari bentuk yang lebih mapan. Saat ini ia lebih banyak membanyol dengan guyonan yang kasar dan slapstik. Tokoh bencong terkesan menjadi andalan. Saling mengejek antar teman menjadi satu formula one. Ras mulai dijadikan candaan.

Jujur saja, ini bukan tontonan anak-anak. Ada banyak contoh tidak baik untuk anak-anak. Kalau orangtua tidak mau mendampingi anak-anaknya saat menonton acara ini, matikan saja televisinya. Jangan malah menonton acara tersebut di depan anak-anak, tapi enggan memberi penjelasan dan melakukan pendampingan terhadap putra-putrinya. Dan kemudian mengancam agar tontonan tersebut dihentikan. Indonesia sekali. Mencari kambing hitam untuk mencari aman.

Kemunculan Afgan di episode Esktravaganza itu justru sebenarnya menyatakan bahwa, tidak perlu kuatir terhadap karakter transeksual Amingwati dan Cici Edrikawati selama pribadi dan karakter diri yang positif telah terbentuk kuat sejak dini di dalam keluarga.

Jika suatu hari nanti, tayangan Ekstravaganza memang dihentikan karena para orangtua terus merongrong dengan alasan tayangan tersebut tidak mendidik, saya mengusulkan ada farewell party. Di episode terakhir yang ditayangkan semua stasiun televisi swasta tersebut, seluruh personil Ekstra benar-benar akan total. Lelucon, guyonan, lawakan dan karakter di push sedemikian rupa hingga penonton tak punya cadangan tawa lagi untuk keesokan harinya.

Setelah itu, tayangan Ekstra akan diganti dengan lawakan Artalyta, Urip, Untung dan jaksa-jaksa lain yang terlibat kasus korupsi. Ketawa-ketawa di ruang sidang karena pembicaraan geblek mereka ternyata disadap oleh KPK. Dan pada saat itu, para orang tua akan dengan senang hati mendampingi anak-anaknya menonton televisi. Lalu mereka akan menjelaskan, bahwa korupsi itu haram jadah. Tapi semoga tidak ada orang tua yang bilang: “Kamu boleh makan jadahnya, asal kau buang yang haram.”

Di saat itulah justru saya yang akan muntah-muntah karena dicekoki tayangan tentang korupsi namun tidak bisa berbuat apa-apa.

(Jakarta, 19 Juli 2008, Salut buat Afgan, dan teman-teman di Ekstravagnza dan Trans TV)

BODONG; cerita tentang sebuah nama

Sudah lama saya tidak dengar kata itu; bodong. Jaman saya kecil, ‘bodong’ sering diucapkan untuk mengejek anak-anak lain yang pusarnya muncul keluar. Lucunya, karena sering dipanggil dengan ejekan ‘bodong’, anak yang wudel nya mintip-mintip itu malah lebih dikenal sebagai ‘si Bodong’ ketimbang namanya sendiri yang pastinya lebih layak. Anak perempuan, entah kenapa mereka disapa dengan,‘Wuk’, katanya sih kependekan dari gawuk atau bawuk.

Jaman saya masih duduk manis di bangku sekolah dasar bahkan ada bacaan dalam buku bahasa Jawa yang isinya bercerita tentang Yu Bawuk yang lemu ginak ginuk dan wetenge njembluk .  Jujur, itu bacaan super menyegarkan dengan ilustrasi yang menawan. Saya sudah coba cari di pasar buku shopping di Jogja dan di Kwitang kok ya ndak ketemu. Padahal buku itu bisa jadi koleksi yang everlasting macam Lima Sekawan nya Enid Blyton atau Pipi si Kaos Kaki Panjang nya Astrid Lindgren.

Sampai SMA, masih ada banyak teman-teman saya yang bernama lucu di mata kawan-kawan sekelas dan guru. Guru-guru killer yang suka iseng pun sering menjadikan kawan-kawan bernama lucu sebagai korban hegemoni mereka. Kasihan sebenarnya. Tetapi karena yang punya nama santai-santai saja dan malah membuat situasi menjadi semakin lucu, rasa kasihan ya urung diberikan.

Kalau tidak salah, Shakespeare pernah ngendika, bilang ,”Apalah arti sebuah nama.” Mungkin ada benarnya. Nama bisa tak berarti apa-apa. Tapi menurut sebagian orang Jawa ( terutama Jawa Tengah) nama itu ada maksudnya. Bahkan ada kepercayaan anak-anak yang memiliki nama ‘terlalu berat’ atau kurang pas bisa jatuh sakit. Konon kata almarhum eyang saya, saya termasuk ke dalam anak-anak yang sempat sakit-sakitan karena nama yang salah. Akibatnya dulu saya sering wudunan (bisulan), demam, asma, gatel-gatel, biang keringat parah dan sebagainya. Pokoknya apes kayak Nobita dalam serial kartun Jepang Doraemon.

Sekian puluh tahun kemudian, nama-nama unik macam, Bodong, Bawuk, Mentrik, Jalitheng, Kancil dan kawan-kawannya seperti hilang ditelan bumi. Kini yang muncul adalah nama-nama cantik yang lucunya tidak dibarengi dengan kelakuan yang cantik pula. Mereka adalah para koruptor yang namanya berarti doa, bermakna mulia. Tetapi kelakuannya macam serigala. Saya bahkan tak ingat nama-nama mereka. Alhamdulillah, jadi saya tidak perlu mengisi memori otak saya yang terbatas dengan nama-nama para pengkhianat amanat rakyat.

Rakyat kecil sengsara. Balita mati merana. Ibu meracuni anak-anaknya. Suami membakar istrinya. Semua karena sosok-sosok pintar bernama mulia yang telah menggerogoti hidup mereka.

Saya masih tinggal di negeri yang saya cinta. Tempat kawan-kawan saya yang bernama lucu macam, Bodong, Bawuk, Mentrik, Jalitheng dan Kancil seperti hilang ditelan masa. Mereka masih menjadi legenda dalam benak saya. Karena mereka membawa pesan, bahwa kesederhanaan bukan barang haram.

Jadi, mbok ya jangan korupsi toh Pak, Bu, Zus, Tuan!

Malu sama bodong.

 

(Jakarta, Juli 2008)

HOMOERECTUS MONOTONOUS

 

Sejak duduk di bangku sekolah, kita seperti diajarkan untuk hidup monoton. Bangun pagi, yang shalat subuh ya shalat, terus mandi, sarapan, berpakaian dan berangkat ke sekolah. Setelah itu kita melewatkan hari selama kurang lebih tujuh jam belajar di kelas. Begitu terus setiap harinya dari Senin sampai Sabtu. Bagi saya satu-satunya hari yang sedikit tidak monoton adalah hari Jumat di mana kita bisa pulang lebih awal untuk pergi ke mesjid dan shalat Jumat. Hari Minggu adalah bonus yang benar-benar bisa melepaskan kita dari kemonotonan hari-hari kita. Main di lapangan ngejar-ngejar kambing atau tiduran sambil nonton si Unyil sampai keriting.

Seorang sahabat dijuluki “si Monoton” oleh ibunya karena beliau melihat anaknya itu sudah menjadi sangat monoton; repetitif, sama dari waktu-ke waktu, tedious dan cenderung membosankan. Hari-harinya selalu sama dari waktu ke waktu. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang, tidur, bangun pagi dst.

Hal yang sama pun kadang-kadang masih diteriakkan kepada saya oleh sebagian orang. Jujur saja, hal itu membuat saya bertanya-tanya. Darimana mereka pikir hidup saya monoton? Mereka tidak 24 jam menempel di dekat saya seperti sebuah tahi lalat. Lalu bagaimana mereka bisa menilai hidup saya membosankan dan monoton? Apa yang tampak oleh orang lain hanya sebagian yang mereka tahu.

Sama seperti hal-hal lain, ada orang-orang yang layak kita ajak berbagi sisi petualangan kita, dan ada orang-orang yang hanya layak mendapat suguhan kemonotonan kita. Kita tidak dengan sengaja melakukan pembagian dan penyisihan siapa-siapa saja yang berhak untuk masuk ke salah satu kelompok itu. Tetapi seleksi alam yang akhirnya mengatur dengan siapa kita berpetualang, melewati hidup dengan lebih ‘hidup’ dan sedikit bergajulan. Dan seleksi alam pula lah yang akhirnya membuat kita memilih dengan siapa kita kembali menjadi mahluk berjalan tegak yang monoton, homoerectus monotonous ( ini hanya istilah yang saya buat, jangan dicari di buku evolusi Charles Darwin)

Jika akhirnya ada orang-orang yang protes dan mengatakan hidup kita membosankan, mereka pasti memakai kaca mata mereka sendiri. Melihat dengan versi mereka sendiri tentang bagaimana hidup mereka yang mereka anggap tidak membosankan. Mungkin, mereka protes karena tidak kita libatkan dalam petualangan kita yang bahkan sering kali lebih dahsyat daripada petualangan Indiana Jones atau Allan Quarterman.

Seorang sahabat yang sedang berlibur dari kapal pesiar tempatnya bekerja menunjukkan kepada saya rekaman film pendek yang dibuatnya saat kapalnya melintasi lautan Antartika yang sedang dilanda badai. Dari layar ipodnya, saya bahkan masih bisa merasakan kengerian melihat langit kelabu dan gelombang dahsyat yang menghempas kapal naik turun. Dalam adegan lain, dia merekam kondisi dapur yang berantakan karena goncangan gelombang.

Menurut saya dia telah melalui sebuah petualangan, meskipun dia mengatakan bahwa dirinya cenderung membosankan dan (juga) monoton dari waktu ke waktu. Bagi saya, merekam keganasan badai adalah sepuah epos yang luar biasa. Dan itu hanya sebagian. Sama seperti si Monoton sahabat saya di atas, diapun sudah melewati banyak kejadian menarik dan melakukan hal-hal luar biasa.

Bukankah menjadi penerjemah dalam kondisi pasca tsunami di Aceh adalah sebuah petualangan, berhadapan dengan gelombang dan badai adalah petualangan, berperan sebagai macan dan mendongeng untuk anak-anak sakit adalah petualangan, menjalankan bisnis dengan segala kejutan-kejutannya yang terjadi setiap hari adalah juga sebuah petualangan, bahkan melewati kisah cinta yang berliku adalah sebuah petualangan. Tetapi jangan mengartikan secara sempit petualangan sebagai sebuah proses yang melibatkan fisik semata. Stephen Hawking, ilmuwan yang seumur hidupnya harus duduk di kursi roda pun sudah banyak berpetualang meskipun yang dilakukannya adalah petualangan pikiran dan batin.

Menurut saya kita tidak perlu berbagi semuanya dengan orang-orang yang sama hanya agar mereka menganggap kita tidak membosankan. Menurut saya, hidup adalah kumpulan fragmen. Kita bisa melewati setiap fragmen dengan orang-orang yang berbeda dan mengalami hal-hal yang berbeda pula. Kumpulan fragmen itu seperti puzzle yang musti kita satukan. Dan jika ada banyak petualangan di antara rangkaian fragmen yang monoton dan membosankan, itu artinya hidup kita sudah cukup mengasyikkan.

Jadi, jangan kuatir, sahabat. Kalau ada yang menyebut kita membosankan, monoton, repetitif atau semacamnya. Itu bisa jadi adalah sebuah tekanan kelompok. Kalau tekanan tersebut adalah tekanan yang positif, fine. Tapi kalau tekanan kelompok itu adalah sebuah ajakan sesat, tinggalkan. Kita tidak mau berakhir dengan petualangan konyol yang justru akan menjerumuskan hidup kita menjadi sesuatu yang kita sesali, bukan?

(Jakarta, Juli 2008, untuk sahabat saya, si Monoton.)

SAHABAT SAHABAT YANG BERBAGI CINTA

Suatu malam beberapa jam setelah saya mem posting tulisan bernada retoris “Di Mana Kita Bisa Menemukan Cinta”, sepotong SMS dari seorang sahabat masuk.  

Benar kamu akan memberikan cintamu untuk siapapun yang membutuhkan? Jangan mengumbar janji. Bagaimana kalau seseorang datang dan meminta cintamu dan ternyata kamu tidak bisa memenuhinya?Bagaimana kalau orang itu saya, misalnya?

Nafas saya sempat terhenti. Bener. Otak saya tiba-tiba berhenti bekerja karena memikirkan jawaban apa yang harus saya ketik untuk membalas SMS sahabat saya itu.

Pagi harinya, saya masih berpikir tentang pesan singkat itu. Apa perlu saya merevisi tulisan saya itu? Artikel dalam blog masih bisa diedit. Tapi buletin sudah terlanjur beredar. Singkatnya, tulisan tersebut sudah sempat dibaca sahabat-sahabat yang lain.

Saya (seperti biasanya) duduk dan merenung. Apa iya saya sudah mengumbar janji dan cinta?

Saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Saya justru mengajak agar saat cinta itu tak kunjung kita temukan, sebaiknya kita berendah hati untuk menerima keadaan. Dan pada saat itulah, kita perlu memberikan cinta kepada orang lain, tolong tidak diartikan secara sempit sebagai kekasih, istri, suami, pacar, kekasih, yayang atau apapun istilahnya. Tolong kalimat itu diterjemahkan sebagai ajakan untuk bisa lebih mau berjiwa sosial, beramal, bersedekah.

Tentang pasangan hidup, jika jodoh tak kunjung kita dapatkan, pasrahkan kepada Tuhan. Dia pasti sudah menyiapkan untuk kita seorang belahan jiwa. Jika tidak sekarang, mungkin pada suatu masa. Jika tidak di dunia, mungkin dia sudah menunggu kita di surga.

Seorang sahabat dari Jogja menulis pesan kepada saya. Bahwa cinta yang tertinggi bisa kita dapatkan dari Tuhan. Saya setuju sekali. Sahabat yang lain dari Kalimantan, mengatakan kepada saya, bahwa nikah atau tidak nikah adalah pilihan. Namun yang pasti, sebuah keputusan harus membawa kebahagiaan bagi semuanya. Bagaimana menikah kalau ternyata justru merusak semuanya? Dan bagaimana dengan para sahabat yang justru memberikan banyak kontribusi bagi sesama, murah hati dan berjiwa sosial tinggi, namun tetap melajang hingga akhir hayatnya? Tuhan pasti punya rumusan dan neraca untuk menimbang itu semua secara adil.

Sumpah, saya tidak bisa memberikan jawaban yang bisa memuaskan semuanya. Semua jawaban bisa benar. Semua individu memiliki versi cintanya masing-masing.

Seorang sahabat merasa sering ditolak dan diabaikan. Seorang yang lain merasa sering tidak diperdulikan. Jangan tanyakan kepada saya apa penyebabnya karena saya pun tak jarang mengalaminya. Dulu, saya terperangkap untuk langsung bereaksi dan membenci keadaan dan orang yang menolak dan mengabaikan saya.

Tetapi untuk apa? Saya percaya semua selalu ada alasan dan sebab. Daripada kurus dan pusing karena memikirkan sebuah penolakan, mengapa kita tidak menyusun strategi penyerangan berikutnya sambil makan makanan enak dan minum minuman segar? Berpikir positiflah tentang diri kita. Kalau ditolak, ya bilang saja:

“Belum rejeki dia dapetin gue”

Titik.

Kembali ke tulisan saya yang ternyata telah disalahartikan dengan sukses. Mungkin karena saya juga sudah salah menulis. Saya yang semula hendak merevisi tulisan tersebut, malah membuat lanjutannya. Bukan untuk memperpanjang masalah tentang di mana kita bisa menemukan cinta. Tetapi justru untuk memperbaiki kesalahan saya. Dan menjadi satu bukti, bahwa saya hanya manusia biasa. Tidak sempurna. Retak-retak seperti gading dalam sebuah ungkapan.

Untuk sahabat-sahabat yang telah bersedia berbagi cinta dengan saya, saya mencintai kalian semua.

( Wadooooooooooooohhhhhhhhhhh..............bisa disalahartikan lagi deeehhhhh. Di delete gak ya? Gak usah.)

Kali ini serius.

Untuk sahabat-sahabat yang sudah bercerita tentang kisah cinta kalian, kepada saya. Terima kasih sudah mempercayai saya. Maaf, kalau saya belum bisa melakukan hal yang sama. Karena saya bukan sebuah buku yang terbuka.

( Jakarta, Awal Juli 2008, setelah retorika di mana kita bisa menemukan cinta)

DI MANA KITA BISA MENEMUKAN CINTA?

Tulisan panjang ini saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya yang masih terus mencari cinta.

Beberapa waktu lalu ketika saya mengunjungi tante saya yang sakit keras, seorang sepupu saya berujar kepada saya.

“Hei! Cepat nikah! Kamu musti meneruskan keturunan.”

Sesiap-siapnya saya dengan tuntutan-tuntutan semacam itu dari keluarga besar, saya sempat terperanjat ketika justru tekanan seperti itu dikatakan di depan tante saya yang masih dalam kondisi sakit. Beliau yang masih lajang di usianya yang lebih setengah abad mungkin samar-samar mendengar tuntutan yang dilayangkan kepada saya itu. Saya merasa tidak nyaman sekali. Tetapi entah mengapa saya menjawab dengan berkata:

“Tenang, sudah ada calon kok.” Kata saya (berbohong) sambil tersenyum meyakinkan sepupu-sepupu saya.

Tetapi tiba-tiba tante saya menunjuk ke satu arah dengan ekspresi sangat ketakutan. Ia mencoba bicara namun tak terdengar sedikit pun suara. Jari telunjuknya terus menuding ke satu arah. Saya merasa mungkin ada ‘makhluk’ lain di situ yang membuatnya ketakutan. Saya mencoba menyadarkannya dan membimbingnya beristighfar. Tetapi ‘sesuatu’ yang terus ditunjuknya itu  menghilang di atas kepalanya dan perempuan itu pun akhirnya kejang. Matanya membalik dan hanya menyisakan putih mata. Saya merasa bersalah.

Apakah pertanyaan itu yang membuatnya merasa dirinya tak berarti karena tidak kunjung menemukan jodohnya? Atau kebohonganku menjawab tuntutan tersebut ? Atau memang benar-benar ada ‘makhluk’ lain yang dilihatnya malam itu?

Entahlah, yang pasti, malam itu kami semua harus terjaga dan mencoba menyadarkan kembali tante saya dari serangan kejang dan panik itu.

Seorang sahabat baik yang kukenal sejak di SMP, dinikahi pria terhormat dari keturunan bangsawan Jawa. Dulu, saya jatuh hati setengah mati kepada cewek super tomboy ini. Ketika beberapa tahun kemudian saya menyatakan perasaan saya kepadanya, dia menolak dengan halusnya:

“Nino, aku tidak ingin kehilangan kamu. Karena itu aku cuma bisa jadi sahabatmu.”

Ternyata sebuah penolakan bisa sangat melukai seperti sebilah silet Tatra baru. Persahabatan kami sempat renggang karena saya tidak bisa menerima penolakan itu. Dan lucunya, setiap kali saya merasakan cinta dan menyatakan cinta itu kepada seseorang yang saya cintai, selalu berakhir dengan penolakan. Dan setiap kali itu pula sakit hati saya rasakan. Tetapi waktu memang menyembuhkan luka hati saya, meskipun perlu waktu lama. Lalu saya dan sahabat-sahabat saya itu pun kembali berbagi cerita lagi.

Ketika sahabat saya itu bekerja untuk sebuah NGO di Maluku sana, kami sempat berkomunikasi lewat e-mail dan ngobrol panjang lebar, kadang jorok dan seringkali vulgar. Tapi semuanya selalu dalam konteks lucu dan bergurau. Dia yang saya tahu sudah live happily dengan suami bangsawannya, tiba-tiba membuat pengakuan.

“Nino, aku ketemu orang ini. EBS.”

EBS? Tanyaku bingung.

“Evolusi Belum Sempurna.”

Istilah itu dipakainya untuk menggambarkan sosok laki-laki idaman lain yang waktu itu mengisi hari-harinya saat jauh dari suami tersayang. Beneran! Dia sayang suaminya. Saya pernah bertemu keduanya beberapa tahun lalu. Dan mereka berdua begitu bahagia. Tetapi cinta? Dia mengatakan tidak merasakannya. Dan dengan makhluk dari Maluku yang evolusinya belum sempurna itu, dia termehek-mehek! Jatuh hati. Tibo tangi, jatuh bangun tidak sadarkan diri. Ia hanya merasakan hepi, hepi dan hepi. Si lelaki EBS idaman kawan saya ini punya sederet atribut yang membuat kawan saya ini seperti musafir yang kehausan di padang pasir. Sosoknya tegap tinggi dengan kulit gelap khas pria Indonesia timur. Wajahnya laki-laki banget, katanya. Dan yang membuat makhluk itu menyandang predikat EBS dari sobat saya itu adalah, bulu-bulu yang tumbuh di seluruh permukaan tubuhnya?

Dan ketika beberapa waktu kemudian saya berkesempatan pergi dan dua bulan tinggal di Maluku, saya mengerti kebahagiaan apa yang dimaksud sahabat saya yang masih centil itu.

Tetapi benarkah itu cinta atau sekedar nafsu? Cuma dia yang tahu.

 (Halo! Kamu ke Maluku atau ke jaman purba pakai mesin waktu?)

Dia cuma ngakak di box chatting dengan menampilkan icon si wajah bulat kuning yang tertawa tergelak-gelak.

Sahabat saya yang lain, digugat cerai oleh istrinya karena rutinitas pekerjaannya yang membuatnya harus sering pergi ke luar kota meninggalkan istrinya. Ketika saya tanyakan apakah mereka bermasalah dengan rumah tangganya, ia hanya menjawab sebenarnya semuanya baik-baik saja. Hanya masing-masing memiliki ekspektasi yang berlebihan antar mereka sendiri. Dan mereka akhirnya bercerai juga.

Saya yang sudah berumur 35 tahun ini dan masih belum punya apa-apa, sering duduk dan merenungkan cerita-cerita itu. Sebagai laki-laki Jawa, saya merasa sangat belum sempurna. Tak ada satupun yang saya miliki dari hal-hal yang disyaratkan; artha(uang), griya(rumah), kukila (burung piaraan, klangenan, biasanya perkutut), turangga ( tunggangan, bisa berupa mobil atau motor) dan wanita (istri). ( Wahai orang-orang Jawa yang membaca tulisan ini, kalau 5 kriteria tersebut ada yang salah, tolong dikoreksi ya.)

Lalu saya berpikir kalau mereka yang sudah menemukan pasangan dan hidup mapan saja bisa liak liuk, gonjang-ganjing seperti itu, apalagi saya yang belum siap apa-apa dan mau melamar anak orang? Tapi saya merasa punya hal-hal baik dan positif dalam diri saya yang tak bisa dinilai dengan banyaknya materi.

Pernikahan itu berlandaskan apa sih sebenarnya? Cinta atau logika? Jika salah satunya, atau mungkin keduanya, bukankah selalu ada kompromi di tengahnya? Kompromi bahwa kita akan menerima pasangan kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya sih setuju saja jika ada orang-orang yang masih mencari cinta. Sayapun begitu. Meskipun untuk saya saat ini, logika sudah banyak berperan. Saya hanya tidak bisa menerima jika seseorang yang sudah terikat dalam sumpah pernikahan lalu memiliki hubungan lain di luar pernikahannya.

Tapi asli, saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Jadi saya hanya manggut-manggut sambil ketawa lebar mendengar pencarian cinta sahabat-sahabat saya yang mengisahkan semuanya dengan perasaan berbunga-bunga. Ada yang menemukan cinta dalam gairah dengan pria tampan yang belum berevolusi sempurna, ada yang mendapatkannya dari sepasang buah dada juicy yang tak didapat dari istrinya, ada yang memperolehnya dari perhatian pria beristri yang tak pernah diraihnya dari siapapun dan ada pula yang mencapainya dengan susah payah bak seorang pangeran yang menyelamatkan seorang putri dari atas puri setelah bertarung dengan naga berapi.

Saya yakin, saat ini saya bukan satu-satunya makhluk Tuhan yang masih mencari cinta. Tetapi jika sampai kapanpun saya tak kunjung menemukannya, saya tidak akan lagi mencarinya. Saya akan memberikannya untuk seseorang yang membutuhkan itu dari saya. Siapa tahu, pada saat itu, ternyata dia juga sedang ingin memberikan cintanya. Mungkin dialah jodoh saya. Amin.

 

(Jakarta, awal Juli 2008. Untuk sahabat saya A.H.)

Tiger Cage Syndrome

            Orang-orang yang sangat mengenal saya, pasti pernah melihat saya sebagai sosok yang ‘peragu’. Seorang mentor  di sebuah lembaga bahasa Indonesia tempat saya pernah bekerja, bahkan mengatakan saya ’mengidap’ Tiger Cage Syndrome.

 Saya tidak yakin apakah istilah itu benar-benar ada atau hanya terminologi yang dipakainya. Sindrom kandang macan mengggambarkan suatu keadaan di mana seseorang merasa ragu dan takut melangkah karena resiko dan konsekuensi yang belum tentu terjadi. Ketakutan dan kekuatiran sudah lebih dulu  mengintimidasinya sebelum dia mengambil keputusan.

 Sebagai contoh, suatu ketika saya lupa membuat persiapan mengajar untuk kelas hari berikutnya. Dan ternyata kegiatan belajar di kelas saya tidak berjalan bagus. Murid mengajukan komplain kepada koordinator guru pengajar. Mengetahui hal itu, bukannya menghadap koordinator dan  minta maaf serta mengakui kesalahan karena kurang persiapan, saya memilih untuk menghindar.

 “Aaah, koordinator pasti akan menegurku. Dia pasti akan memberiku sangsi.” Pikiran-pikiran seperti itu menyesaki benak saya saat itu.

 Atau contoh lain, saat saya hendak memutuskan untuk memulai bisnis sendiri. Saya berpikir, aduh, nanti pasti gagal. Aduh, persaingan sangat ketat. Saya tidak akan bisa bertahan lama. Dan lain-lain.

 Pemikiran-pemikiran seperti itu menjadi semakin bertumpuk. Saya menjadi sangat judgmental bahwa orang-orang akan marah atau sinis atas kesalahan yang saya lakukan, atau situasi sekitar akan memburuk jika saya mengambil suatu keputusan tertentu. Itu mengapa saya sering tampak ragu dan terkesan lamban.

Padahal jika saya mau berpikir tenang sebentar dan melihat inti masalahnya, belum tentu situasinya akan benar-benar buruk seperti yang saya bayangkan.

Selanjutnya saya mulai ‘mengakui’ kepada diri sendiri bahwa saya memang sedikit lamban. Saya pikir, kadang-kadang kita memang perlu dorongan untuk membuka mata dan melakukan perbaikan internal. Sedikit demi sedikit saya mulai menyingkirkan kekuatiran dan ketakutan yang saya rasakan setiap kali akan mengambil keputusan.

Awalnya memang sulit, karena pada dasarnya saya adalah tipe pribadi yang sangat berhati-hati dan tidak ingin gegabah dalam membuat keputusan. Tetapi ternyata beberapa kali saya dihadapkan pada kesempatan di mana saya harus mengambil keputusan dengan cepat, bukan lagi dalam hitungan menit, tetapi detik. Lalu apa yang terjadi? Tidak terjadi apapun! Semua baik-baik saja. Kekuatiran-kekuatiran yang dulu seringkali menghantui saya tidak pernah terjadi.

            Seorang sahabat, psikolog dan konsultan sumber daya manusia, mengatakan bahwa tidak ada keputusan yang salah atau benar. Yang ada dari sebuah keputusan adalah resiko dan hasilnya. Jadi, jangan pernah menyalahkan diri sendiri apabila terjadi sebuah kesalahan setelah menetapkan sebuah keputusan. Jika resiko dan konsekuensi yang dihadapai ternyata jauh dari harapan, terima dan perbaiki di waktu pembuatan keputusan berikutnya. Itu saja.

TOLERAN ATAU KOMPROMI?

            Suatu malam, seorang sahabat mengirim sms kepada saya. Isinya sebuah pertanyaan: Nin, apa bedanya toleran dan kompromi?

 Saya tidak segera menjawab sms itu. Butuh waktu semalam bagi saya untuk menemukan jawaban yang tepat, apalagi kalau harus ditulis dalam bentuk pesan pendek. Malam itu, pertanyaan sahabat saya itu saya bawa tidur.

 Sahabat saya yang lain pernah bercerita kepada saya tentang bagaimana suaminya diam-diam menikah lagi. Pendeknya, sahabat saya itu dimadu oleh suaminya yang dapat istri baru. Dan beberapa waktu kemudian, ketika sahabat saya itu siap mengajukan gugatan cerai, suaminya mengabarkan padanya lagi bahwa dia sudah kawin lagi. Jadi, suami sahabat saya itu punya tiga istri; termasuk sahabat saya itu. Benar-benar pejantan tangguh.

 Dia bertanya kepada saya; ‘Nin, menurutmu aku toleran atau kompromi?”

 Ada banyak pertanyaan serupa yang tiba-tiba melayang di sekeliling saya.

 Apakah saya toleran atau kompromi?

 Setelah semalaman tidur dan membawa pertanyaan saya itu ke dalam ruang mimpi saya, saya bangun pagi dengan segar dan membawa sebuah jawaban. Saat kita bertoleransi terhadap orang lain, kita melakukannya dengan sukarela. Sedangkan saat berkompromi, dimana nilai kebenaran yang kita anut sudah berbenturan dengan nilai yang dianggap benar atau dibenarkan oleh orang lain, kita terpaksa melakukannya karena satu dan lain hal. Seperti itukah?

Saya masih ingat pelajaran PMP atau Pendidikan Moral Pancasila yang saya dapat waktu 12 tahun sekolah dulu; SD, SMP dan SMA. PMP mengajarkan kita untuk bertoleransi terhadap pemeluk agama atau kepercayaan yang tidak sama dengan agama yang kita anut. Di dalam pelajaran itu, seingat saya, tidak pernah diajarkan tentang kompromi, tetapi kita dituntun untuk tahu dan sadar tentang nilai-nilai benar dan salah. Dan saat  kita membiarkan terjadinya penyelewengan terjadi di sekitar kita untuk mengamankan posisi kita, itulah kompromi. Saat di mana kita diam ketika melihat orang lain korupsi. Waktu kita bungkam ketika tahu ada orang lain ditindas.

Jadi bagaimana dengan sahabat-sahabat saya berikut ini? Seorang sahabat gusar melihat yayasan pendidikan tempat dia bekerja mengambil untung besar, lalu memutuskan untuk keluar dari tempatnya kerja. Sahabat lain hengkang dari perusahaan tambang tempatnya kerja karena melihat di depan matanya para pejabat lokal mencaplok tanah warganya. Sahabat yang lain lagi mundur dari posisi community development supervisor dari sebuah perusahaan tambang karena tidak tahan melihat hutan digunduli gila-gilaan untuk menggali materi tambang.

Setahu saya ada orang-orang yang bisa sangat fleksibel terhadap sebuah kecurangan atau ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Asal tidak ikut bermain, semua akan aman-aman saja, alasan mereka.

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah artikel, tentang Nasir Abas, mantan Anggota Jamaah Islamiyah, asal Malaysia yang direkrut untuk dilatih di Afghanistan.

I found it very heroic, a dream come true,’ ujarnya pada Time.

Selanjutnya, laki-laki itu lalu direkrut untuk menjadi instruktur persenjataan di kamp pelatihan para mujahid. Lalu naik pangkat menjadi Ketua Mantiqi Three, salah satu unit pelatihan Jemaah Islamiyah.

Waktu berlalu. Sejak Natal 2000, gelombang pengeboman di beberapa tempat di Indonesia mulai ramai terjadi. Korban pun berjatuhan. Dan entah bagaimana, Nasir Abas pun gundah. Laki-laki ini yakin Nabi tidak pernah mengajarkan kekerasan semacam itu.

Dan ketika di 2002 bom Bali meledak dan menewaskan sekitar 200an orang, Nasir tercenung karena diantara yang terlibat dalam pengeboman itu terdapat dua orang yang pernah dilatihnya dulu.

I tried to talk to people in the organization, but what could you do when they wouldn’t listen?’ tanyanya dengan gusar.

Selanjutnya, setelah tertangkap dan dijatuhi hukuman untuk kasus keimigrasian, Nasir justru bekerjasama dengan kepolisian dan ia pun mendapat keringanan hukuman.

Saat membaca majalah itu, saya berpikir, apa yang dilakukan Nasir itu suatu bentuk toleransi atau kompromi? Baik saat ia masih menjadi instruktur bagi para mujahid, maupun ketika bekerja sama dengan kepolisian?

Saya lalu menyadari bahwa antara perbedaan toleran dan kompromi sangat tipis. Mungkin setipis kulit ari. Tapi sama seperti kulit, yang bisa gatal, panu, kadas, kudis dan kurap, toleran dan kompromi juga bisa budukan dan kurapan. Mungkin untuk menjaga kehalusannya, kita perlu lotion atau malah salep kulit.

Jadi pertanyaan-pertanyaan sahabat-sahabat saya tentang toleran dan kompromi sementara ini terjawab sudah. Tapi justru saya yang saat ini butuh bantuan. Saya orang yang sangat toleran, tetapi saya belum bisa kompromi. Lotion atau salep kulit apa yang perlu saya pakai kalau antara toleran dan kompromi cuma setipis kulit ari? Karena saat ini ada banyak sekali hal yang harus saya kompromikan.

(Jakarta, 8 Juni 2008)

MALAIKAT PENCABUT NYAWA

Tahun 1992, setamat SMA, ketika saya dinyatakan tidak lulus tes AKABRI karena buta warna parsial merah dan hijau, hati saya hancur. Saya menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung. Membanting gelas dan piring. Menjambak rambut saya sendiri. Melukai diri ini...( Stop! Lebai ya. Terlalu hiperbola. Ndak kok. Saya cuma sedih dan sempat kecewa, dan lalu bertanya pada Tuhan; kok bisa? Wong sejak kecil saya suka menggambar dan hapal di luar kepala lagu Balonku Ada Lima yang rupa-rupa warnanya itu. Lha kok bisa dibilang buta warna?)

Hari berganti. Tahun 2000 ketika saya sempat mendapat urutan nomor dua kontes News Presenter Liputan 6 yang diadakan SCTV di Jogja, entah kenapa saya tidak menindaklanjuti peluang itu untuk bisa menjadi presenter berita di stasiun tivi yang aktual, tajam dan terpercaya itu. Padahal, produser SCTV waktu itu, (mungkin) menunggu saya. (hehehe ini bercanda.)

Dari dua kisah di atas, Tuhan sepertinya sudah mengatur jalan hidup saya. Satu, saya tidak menjadi tentara (atau polisi). Dua, Saya tidak jadi tampil di tivi membawakan berita sebagai news presenter. Tanya kenapa? ( Yang ini bukan iklan rokok.)

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya jadi polisi atau tentara. Lha wong saya orangnya kaku, tidak fleksibel dan cenderung robotic. Saya bisa membumihanguskan demonstran-demonstran yang anarkis. Saya bisa menghajar habis pelanggar-pelanggar rambu-ramu lalu lintas. Saya bisa menembak kening para pejabat yang terlibat korupsi tanpa perlu menganut praduga tak bersalah. Pokoknya, saya bisa menjadi tangan hukum yang sangat ditakuti, disegani dan yang parahnya lagi... dikutuki.

Begitu pula kalau saya jadi news anchor dan harus mewawancarai nara sumber yang ternyata memang kriminal, korup, penjahat, tukang ngemplang uang rakyat, dan lain sebagainya. Apa iya, saya tidak akan mejambak-jambak rambut mereka, menonjok muka mereka, menjewer telinga mereka. Pendek kata, habislah mereka oleh saya di depan pemirsa di seluruh nusantara.

Untungnya, sekali lagi untungnya, Tuhan kok masih menyayangi saya dengan tetap menjadikan apa adanya saya. Yang leda-lede, mencla-mencle, kadang malas mandi malas makan, tapi kalau rajin mandi bisa sehari lima kali dan kalau rajin makan malah ngabisin jatah orang. Ya kalau saya gemas dengan kondisi yang terjadi, saya masih bisa memaki-maki di depan televisi atau nulis di blog. Yang terakhir terasa lebih positif dan produktif.

Alhamdulillah, Gusti Allah masih menjadikan saya manusia biasa yang bisanya berdoa, agar Ia mau mengampuni dosa-dosa para pejabat negeri ini sehingga negara dan bangsa ini bisa dihindarkan dari kehancuran.

Padahal kalau boleh meminta, saya ingin punya alter ego. Sosok yang bisa membasmi semua kejahatan, kecurangan, dan kebiadaban di bumi tercinta ini. Saya ingin menjadi Malaikat Pencabut Nyawa! Malaikat yang khusus mencabut nyawa oknum pejabat-pejabat korup.

Tapi apa iya saya bisa steril dari amplop-amplop tebal berisi dollar atau kado-kado mewah berisi barang-barang mahal?

Waduh, berat betul. Saya kok ndak bisa janji ya. Saya takut suatu saat saya menerima ‘pemberian’ itu saya akan berkata; “Maaf, saya hanya manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan dosa.” Atau yang lebih parah, jangan-jangan saya malah terangsang mendengar suara pejabat-pejabat korup yang menelpon saya untuk mengatur skenario penangkapan saya. Party line, bibeh!

(Kudus, 17 Juni 2008)

APA PERBEDAAN MAX HAVELAAR DAN MAX MOEIN?

DI JAMAN KOMPENI, MAX HAVELAAR SANG TUAN TANAH, MEMPERJUANGKAN HAK KAUM PRIBUMI.
DI MASA KINI, MAX MOEIN, SALAH SATU ANGGOTA DEWAN DARI FRAKSI PDI-P MELECEHKAN PEREMPUAN PRIBUMI.

(Jakarta, 6 Juni 2008)

MUSLIM VS MUSLIM? LHA KEPRIBEN KIYE?


 Beberapa jam setelah saya meng upload tulisan ISLAM MEMBELA DIRINYA SENDIRI (Peristiwa Monas 1 Juni 2008), saya langsung mendapat banyak komentar di blog. Semua setuju bahwa tindakan  kekerasan yang telah dilakukan FPI  terhadap para simpatisan AKK-BB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan)memang patut disesalkan. Seorang sahabat kebetulan berada di tempat kejadian, namun datang terlambat bersama serombongan polisi. Dia menyesal tidak bisa menolong saat anak-anak dan ibu-ibu dikejar-kejar, sedangkan kaum laki-lakinya dipukuli. Tetapi ada pula komentar dari sahabat yang lain yang mengatakan bahwa ini buntut dari ketidaktegasan sikap pemerintah terhadap kelompok Ahmadiyah. Dan perlu dimaklumi kalau FPI sebagai laskar pembela Islam kecewa dan melepaskan kemarahannya dengan menyerang AKK-BB yang waktu itu diduga akan melakukan apel siaga Ahmadiyah.

 Waktu saya membuka satu persatu komentar yang dikirimkan oleh para sahabat saya itu, saya sempat kuatir. Jangan-jangan justru saya yang dimaki-maki karena menulis kekecewaan saya terhadap FPI. Tetapi semua komentar yang masuk sangat bijaksana. Kritik terhadap saya pun disajikan dengan santun dan dewasa. Jadi, ini bisa jadi awal dari diskusi panjang tentang Islam. Insya Allah.

 Sahabat-sahabat yang lain menelpon dan menggoda saya.

 “Wah, Mas lagi musuhan sama FPI, ya? Ha ha ha.”

 Saya tertawa mendengarnya. Lalu saya jawab bahwa saya tidak musuhan dengan FPI, wong kenal saja tidak. Saya cuma kecewa. Sama kecewanya saya terhadap sikap pemerintah yang tidak tegas dalam kasus ini.

 Sehari setelah FPI menyerbu simpatisan AKK-BB di Monas, FPI di Cirebon dan di Yogyakarta diserang massa. Entah massa dari kelompok mana. Tetapi tampaknya FPI justru lebih siap dengan serbuan itu, bukan mereka yang kocar-kacir, tapi malah para penyerbu itu yang dibuat kalang –kabut. FPI memang mooi. Sikap antisipatifnya patut diacungi jempol.

Tetapi melihat berita itu di televisi, saya cuma membatin : lha kepriben kiye? Muslim kok lawan muslim? Jeruk kok makan jeruk?

Jauh di ujung timur sana, di kampung Loleba,  Halmahera Timur, tempat saya bekerja beberapa waktu lalu, di antara sekitar 200 orang penduduknya yang beragama nasrani, hanya ada satu keluarga muslim dengan sekitar 6 anggota keluarga.Tidak ada mesjid satupun. Meskipun demikian, mereka hidup rukun.

Satu-satunya tempat ibadah untuk kami melakukan shalat lima waktu dan ibadah shalat Jum’at hanyalah mushala di camp kami. Itu pun sangat sederhana, dindingnya papan kayu dengan atap terpal yang berlobang di sana sini, sehingga kalau hari terik, sinar matahari langsung dengan lancang masuk, dan kalau hujan lantai mushala yang hanya dilapisi plastik menjadi becek. Azan dikumandangkan dengan malu-malu oleh muazin dadakan yang dipaksa dan didorong-dorong oleh para jemaah lain.

Nah, di Jakarta ini kan ada ratusan mesjid dan mushala, mungkin malah sudah menembus angka ribuan, mesjid yang indah juga banyak, ada banyak pengajian dan kajian Al Quran. Lha muslim sama muslim kok malah pentung-pentungan?

Lalu saya berpikir. Apanya yang aneh? Di negeri ini polisi sama tentara saja bisa saling hantam. Gus Dur sebagai Ketua Dewan Suro saja bisa menendang Muhaimin Iskandar dari jabatannya sebagai Ketua Umum PKB. Pemilihan pilkada bisa berakhir rusuh. Sudah, tidak usah jauh-jauh, wong sesama saudara kandung saja bisa kerah kok.

Kali ini saya tidak mengelus dada seperti hari minggu sore saat melihat berita penyerbuan FPI. Saya hanya diam sambil meneguk Pocari Sweat dingin kegemaran saya.

Heran saya. Heran sama siapa? Ya sama diri saya sendiri. Kok seperti orang tidak pernah belajar dari pengalaman. Iqra! Iqra! Baca! Baca! Kita hidup di Indonesia. Sebuah negeri di mana aturan bisa tidak dipatuhi dan hukum bisa dibeli. Lalu kenapa saya harus heran ya kalau setelah kejadian itu sesama saudara muslim bisa saling hajar.

Ya, kali ini saya cuma menonton berita itu.

Sedih? Tidak. Kecewa? Nggak juga.

Lalu?

Kan sudah saya bilang, saya cuma diam saja sambil minum minuman pengganti ion. Saya lagi butuh ion pengganti tubuh saya yang hilang setelah seharian ngeluyur.

 

(Jakarta, 3 Juni 2008)

ISLAM MEMBELA DIRINYA SENDIRI

ISLAM MEMBELA DIRINYA SENDIRI

(Peristiwa Monas 1 Juni 2008)

         1 Juni 2008, adalah peringatan ke-63 hari lahirnya Pancasila. Perayaan yang dipusatkan di taman Monas dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat ini seharusnya dilalui dengan damai sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila. Tetapi seremoni yang seharusnya penuh damai ternoda oleh kekerasan super duper BRUTAL yang dilakukan oleh Front Pembela Islam! Organisasi pembawa ‘bendera ‘ Islam ini dengan membabi buta menyerang para simpatisan AKK-BB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan).

         Jujur saya terperangah saat melihat dari televisi aksi laskar FPI menggasak, menganiaya, menggebuk, menjotos dan menendang para simpatisan Aliansi Kebangsaan. Tak sedikit yang terluka. Sekitar 14 orang anggota aliansi dilarikan ke rumah sakit. Dan setelah peristiwa penyerangan itu, para simpatisan Aliansi Kebangsaan yang berhasil lolos dari penyerangan itu mengadakan jumpa pers di halaman Galeri Nasional. Mereka menuntut kepolisian agar ‘Peristiwa Monas 1 Juni’ tersebut diusut tuntas. (Kita lihat nanti bagaimana sebenarnya hukum ditegakkan di Indonesia.)

Bergetar hati dan perasaan saya sebagai muslim. Apakah orang-orang Islam sejahat itu? Apakah  Islam mengajarkan kebencian dan kekerasan? Bukankah nabi kita Nabi Muhammad saw dulu pun menghormati pemeluk agama lain?

Saat menulis blog ini, saya masih shock, malu dan sedih dengan peristiwa tersebut. Padahal saya tidak mengalami peristiwa itu secara langsung dan hanya menyaksikannya lewat berita-berita di televisi. Saya masih yakin bahwa agama yang saya anut ini mengajarkan kasih sayang terhadap dunia seisinya. Islam adalah rahmatallilalamin. Islam membawa berkah bagi seluruh umat.

Lalu apa salah Islam? Apa dosa Islam? Apa aib Islam? Sehingga ia perlu dibela sebegitu rupa dengan menyakiti sesama kita? Tidakkah para penyerang itu juga membaca, atau bahkan mungkin (sangat) hafal ayat-ayat dalam Al Quran yang sebenarnya mengajarkan kedamaian dan kasih sayang? Bukankah mereka semua berpakaian putih-putih yang melambangkan kesucian? Lalu mengapa mereka menaburkan kebencian dan kerusakan di muka bumi? Sesuatu yang sangat dilaknat oleh ALLAH SWT.

Saya tidak tahu, dari atas sana, ALLAH SWT sedih atau malah tertawa melihat ulah para pembela Islam itu. Sedih karena Islam telah disalahgunakan dengan menghidupkan kebencian. Atau tertawa karena melihat kesalahan luar biasa yang telah dilakukan umatnya terhadap umatnya yang lain. ALLAH SWT Maha Adil, Dia tahu mana yang benar dan salah, mana yang jujur dan yang munafik.

Menurut saya Islam bisa membela dirinya sendiri. Justru kelak Islam yang akan membela kita dengan melihat semua amal ibadah kita, baik kepada ALLAH SWT Sang Pencipta, maupun kepada umat manusia dan dunia seisinya.

Wallahualam bis sawaf

(Jakarta 1 Juni 2008)

AKU MELIHAT MALAIKAT

Aku melihat malaikat,
tidak dalam kitab-kitab atau alunan ayat-ayat.
Aku melihat malaikat pada dirimu
yang hanya mampu memberikan satu
tetapi menjadikan senyum sebagai pemberian keduamu.
Simpan sayapmu,
apapun warna dan seberapa besar bentuknya.
Sebab bagiku
itu tak sebanding
dengan apa yang telah engkau berikan kepada sesama.

Aku ingin melihat malaikat
tidak lewat puja-puji atau senandung lagu rohani.
Aku ingin melihat malaikat pada diriku,
yang hanya bisa memberikan satu
tetapi memberikan hangat jiwaku sebagai persembahan keduaku.
Kan kusimpan sayapku.
Sebab apapun warna dan seberapapun bentuknya,
aku tak akan kuat menanggung sakit kelahirannya.

Kita melihat malaikat.
Setiap waktu setiap saat.
Tidak lewat sanjung dan banyaknya jemaat.
Tetapi kita melihat malaikat,
pada diri mereka yang membawa kebaikan bagi semua umat.

( You are the angel. You must be hide your big white fluffy wings)

Jakarta, 30 Mei 2008





DOA YANG TERKABUL

TUHAN,
BAGAIMANA JIKA DOA YANG KUPANJATKAN TERNYATA ENGKAU KABULKAN,
NAMUN TERNYATA TIDAK SESUAI YANG KUHARAPKAN?

(Ekor, April 2008)

MENJABAT ERAT TANGAN SAHABAT

Saya punya satu obsesi (ternyata). Berjabat tangan dengan orang-orang yang saya kagumi. Siapa saja. Mulai dari bupati sampai petani, dari sais sampai penulis. Kedua tangan saya sudah menjabat tangan banyak orang penting. Sekali lagi, penting tidaknya orang itu, sangat subyektif sekali, karena itu hanya dari sudut pandang saya sendiri.

Sekitar akhir 97, saat masih ngontrak di rumah petak di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, suatu hari saat pergi ke Kem Chick ( pasar swalayan milik pengusaha Bob Sadino), saya bertemu Ketua Umum PDIP Megawati. Saat itu beliau masih dengan model sanggul cepolnya yang sederhana. Waktu itu ibu yang sederhana tersebut membeli jajanan pasar, macam kue ku, kue lapis dan sebagainya. Mungkin untuk tamu yang akan datang ke rumahnya malam itu. Kami sempat bercakap-cakap beberapa kalimat. Sebuah percakapan yang hangat, seingat saya. Lalu sepulang dari Kem Chick, saya menelpon semua keluarga saya di luar Jakarta yang saat itu kebetulan sangat mengidolakan Bung Karno dan masih mendewikan putrinya, Megawati.

Sekitar Juni 98 di Jogja, ketika novel SAMAN karya Ayu Utami banyak dibicarakan orang, saya berkesempatan datang di acara jumpa Ayu Utami dan pembacaan novel tersebut. Acara yang diadakan di Lembaga Indonesia Perancis sebulan setelah kerusuhan Mei 1998 itu diminati banyak mahasiswa dan seniman Jogja. Hampir sepanjang acara, pandangan mata saya tak lepas dari sosok Ayu Utami yang saya gambarkan sebagai sosok perempuan yang cerdas, sederhana, lugas dan seksi sekali.

Saya yang waktu itu belum memiliki novel SAMAN dan hanya menikmatinya dari potongan potongan paragraf dari artikel tentangnya yang dimuat di TEMPO dan KOMPAS, akhirnya membeli buku itu yang kebetulan dijual di teras teater Lembaga Indonesia Perancis. Acara Jumpa Ayu Utami dan Pembacaan Novel SAMAN yang diselenggarakan hari itu pun tuntas saya ikuti.

Tapi kelak saya baru sadar bahwa tujuan saya waktu itu cuma satu: bertemu Ayu Utami. Karena saya sangat mengagumi cara dia mengekspresikan buah pikirannya di dalam novel itu. Dan ketika saya melihat Ayu Utami beringsut dari tengah forum diskusi menuju ruang sebelah ( mungkin mau ke toilet), saya pun melesat cepat menerobos mahasiswa-mahasiswa yang sedang duduk lesehan di dalam auditorium mendengarkan diskusi tentang SAMAN.

Di ruang sebelah, Ayu Utami duduk bersandar di kursi. Perempuan itu tampak letih. Satu tangannya menjuntai di samping badannya, dan tangan yang lain tertumpu di meja. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang terurai begitu saja tanpa pengikat. Di ruang itu tak ada siapapun selain dia. Lalu saya mendekati dia.

Perasaan saya girang bukan kepalang. Dia jauh lebih menarik dari yang tampak di majalah atau koran-koran. Pantas saja dia pernah menjadi finalis Wajah Femina. Matanya yang lancip, alisnya yang tegas dan bibirnya yang merah penuh, sungguh teramat dahsyat di mata saya. Dan ketika dia melihat saya berjalan mendekat, senyumnya tersungging. Saya menjabat tangannya, dia menjabat tangan saya. Kami saling berkata-kata. Kemudian saya menyodorkan novel SAMAN untuk ditandatanganinya. Kami saling mengucapkan terima kasih. Dia berterima kasih karena saya telah membeli novelnya, dan saya berterima kasih untuk semuanya; tanda tangannya, tatap matanya, senyum di bibirnya dan karena dia telah menulis SAMAN.

Tahun demi tahun berlalu, saya pun bertemu banyak orang yang saya kagumi. Ada pejabat, ada penulis, ada artis teater dan lain-lain. Tetapi satu sosok yang saya kagumi yang belum sempat saya temui dan jabat tangannya adalah Almarhum Umar Kayam. Dulu, salah satu tujuan saya kuliah di Jogja adalah bertemu beliau. Tetapi Tuhan berkehendak lain, beliau tutup usia, saat saya merasa bahwa dengan berada di satu kota dengan beliau, saya akan bisa bertemu Pak Umar kapan saja. Ternyata saya salah.

Lalu tahun terus beranjak. Dan akhirnya, karir saya dalam menjabat tangan orang yang saya kagumi pun mencapai puncaknya. Lebaran Idul Fitri 1428 H lalu, kerabat saya mengajak saya datang ke acara Open House di Istana Negara. Boleh percaya boleh tidak, saya ada di urutan nomor satu! Dan akhirnya saya pun bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya kagumi. ( Saya terpaksa memotong bagian-bagian di mana saya yang seharusnya bisa menjadi pengunjung nomor satu yang bersalaman dengan presiden, tetapi diserobot oleh orang-orang berjas yang merasa berhak menjadi yang pertama, hanya karena mereka pengusaha dan orang-orang dewan utusan daerah).

Mengingat-ingat lagi tentang obsesi saya berjabatan tangan dengan orang yang saya anggap penting, saya ingat betul kejadian suatu sore di sebuah plaza di Jakarta. Saya kebetulan bertemu dengan teman saya dari Jogja yang beberapa hari sebelumnya minta bantuan saya untuk dicarikan penginapan dengan reasonable price karena dia akan mengikuti training di satu bank di Jakarta. Waktu itu saya katakan bahwa saya hanya tahu beberapa dan itupun jauh dari tempatnya training. Tak lama kemudian diapun menginformasikan kepada saya bahwa dia sudah di bookingkan satu kamar di sebuah hotel berbintang. Syukurlah, jadi dia tidak perlu repot bayar sendiri.

Dan ketika minggu itu saya bertemu dengan kawan saya dari Jogja di lower ground plaza itu, kami berpapasan dan saling berpandangan. Saya tersenyum tetapi dia membuang muka. Secara otomatis, karena saya merasa dia kawan saya, saya pun berbalik dan mencoba mengejarnya. Tetapi tiba-tiba saya teringat nasihat seorang sahabat kepada saya setahun sebelumnya:
”Nino, aku tahu kebiasaanmu menyapa siapapun yang kamu kenal. Menurutku itu bagus. Tapi di Jakarta, siap-siap kecewa ya, kalau sapaanmu tidak dibalas.”

Saya berhenti dan tidak jadi mengejar kawan sekampung saya itu. Kecewa karena dia tidak mengenali saya? Kecewa karena dia membuang muka saat saya tersenyum padanya? Entah. Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya berhenti begitu saja. Saya hanya boneka Tuhan. Dia yang memutuskan kapan saya harus berhenti dan kapan saya bergerak, untuk menyapa, untuk tersenyum dan untuk menjabat tangan.

(Jakarta, 10 Feb 2008)

Sore Terakhir

Mak Pon, tertatih dari satu sisi jalan ke sisi jalan yang lain. Perempuan tua itu merayap dari satu jajar pagar ke pagar yang lain. Memetik kuntum-kuntum mawar, melati dan kenanga. Setangkup demi setangkup dikumpulkannya dalam bungkus-bungkus daun pisang.

Para tetangga maklum saja. Mereka tak hanya membiarkan bunga-bunga mereka dipetik Mak Pon, tetapi sering pula mereka memberikan sebutir dua butir mangga atau buah lain yang jatuh di halaman rumah mereka kepada perempuan itu.

Mak Pon menerimanya saja. Dengan senyum mengembang dan rongga mulut yang kosong karena gigi-giginya  tak lagi tinggal, ia berucap:

"Terima kasih."

Kemudian lidahnya yang layu menjilati bibirnya yang tua dan kering.

Mak Pon berjalan menuju ke pasar. Jauh jaraknya. Berat langkahnya. Tubuh rentanya kadang terasa seperti pasung yang membelenggu. Saat lelah, ia hanya mencari teduh pohon. Duduk dan berdzikir. Saat haus dan lapar, ia kembali mencari teduh pohon, lalu duduk dan berdzikir.

Tuhan telah memberinya perasaan kenyang dan puas dari lapar dan dahaga.

Tiba di pasar, Mak Pon duduk di sudut gerbang pasar. Tak ada payung peneduh, tak ada pula alas untuk duduk. Ia menggelar bunga-bunga yang dipetik dari pagar-pagar hidup rumah para tetangganya. Lalu buah-buah layu yang ia terima dari tetangganya pun ditatanya di samping mawar,melati dan kenanga.

Seharian, Mak Pon duduk. Tak beranjak untuk makan, minum atau berhajat. Mak Pon duduk, tersenyum sambil menawarkan bunga-bunga dan buah-buah kepada setiap yang lewat. Pengunjung pasar melewati tetapi tak memperhatikannya. Sedangkan mereka terusik oleh aroma pesing kamar-kamar tempat kencing.

Sore tiba, Mak Pon bangkit dari tempatnya dan mengemasi bunga-bunga dan buah-buahnya. Tetapi ia tidak membawanya pulang. Di kali dekat pasar, Mak Pon melarung semuanya. Kuntum-kuntum bunga dan buah-buah yang layu hanyut dibawa air kali yang mengalir ke barat.

Mak Pon berjalan pulang. Ketika sebuah andong lewat, sais menghentikan kudanya dan menawari Mak Pon untuk menumpang. Mak Pon menolak.

"Aku tak punya uang." kata Mak Pon kepada sais.

"Tak apa Mak. Tak usah bayar." kata si sais. Kemudian laki-laki itu pun turun dan membopong Mak Pon naik ke andongnya. Mak Pon tertawa tergelak. Bahkan dalam tawanya, Mak Pon berdoa, agar Tuhan memberikan rezeki seluas bumi, langit dan samudra bagi si sais.

Dan ketika keduanya sudah duduk di andong dan sais memacu kudanya, tak pernah ada dari kita yang bisa melihat kereta melesat jauh lebih cepat dari kilat.

Cerita Mak Pon berakhir di situ.

Tidak ada yang ingat tentang Mak Pon. Tetapi orang-orang mengenal pemuda baik hati yang bekerja sebagai sais andong. Dia meninggal sore itu setelah shalat ashar. Sais itu terbaring di kursi belakang dengan wajah tersenyum. Di sisinya, setangkup bunga-bunga mengharumkan sore terakhirnya.

(Jakarta, 31 Januari 2008)

Sajak Pakde dari Jauh

·                          

·                                 
Nduk, Sekar Cah Ayu
kemarin ya, hari ulang tahun mu?
Pakde lupa menelponmu.
Tapi apa kamu ya bisa mengerti omonganku?
Meski kamu bisa mendengar suaraku.
Padahal Pakde mau menawarimu,
mau dibelikan boneka kayu,
atau dibuatkan origami kupu-kupu?
Kamu paling-paling cuma senyum senyum lucu.
Ya wis, pakde tuliskan dulu
sajak ini ya cah ayu.
Buat tombo atimu.
Nek kangen karo pakdemu.
Nanti kalau Pakde pulang,
Pakde bawakan oleh-oleh untukmu.
Mungkin bukan boneka kayu,
atau origami kupu-kupu.
Tapi sesuatu yang bisa menemanimu setiap waktu.
Sampai kelak kamu bisa bercerita pada Pakdemu,
tentang hari-hari bahagiamu,
bersama ayah dan ibumu serta kakek nenekmu.

Selamat ulang tahun Nduk, Sekar cah ayu.

·                                 

·         (Jakarta, 18 Januari 2008, Sehari setelah ulang tahun Sekar, setahun)

Sepotong Croissant Hangat di Awal Tahun Baru

            Malam tahun baru saya habiskan di rumah saja. Tidur jam 9 karena acara tivi membosankan dan mendung di luar benar-benar mendukung rasa kantuk saya. Beberapa sahabat mengajak saya bermalam tahun baru bersama. Ada yang mengajak ketemu di café, ada pula yang mengajak bakar-bakar ikan. Tetapi semua saya tolak dengan sopan tentunya.

‘Maaf, tradisi malam tahun baru saya, saya tidur cepat.’

Sebelum tidur, saya sempat mendapat sms-sms dan membalas beberapa sms. Sisanya tak terbalas karena saya sudah keburu tertidur dengan sukses. Karena malam itu tidur cepat, saya bangun pagi dengan pikiran dan tubuh yang segar.

Selepas subuh, saya sempat lari lari pagi di tengah mendung yang masih menggantung pagi itu. Jam 8 pagi, meluncur ke Tan Ek Tjuan, toko roti Jakarta jaman tempo doeloe yang masih eksis sampai kini di Cikini. Maksud hati sih ingin menyantap roti anget fresh from the oven, eh ternyata tutup.

Bersama seorang sahabat, kami berdua mencari sarapan pagi. Pagi tanggal 1 Januari 2008 kemarin, jalanan Jakarta lengang. Bersih sekali udara Jakarta pagi itu. Segar sekali rasanya. Dari Cikini, Matraman, Menteng, Senen dan Kuningan, tidak ada makanan pagi yang membangkitkan selera. Yang ada cuma mie ayam, bubur ayam, mie ayam dan bubur ayam.

Ke mana sih para penjual ketoprak atau lontong sayur yang biasanya mondar mandir berkeliling? Mungkin mereka capek setelah berdagang semalaman di ujung tahun baru. Tapi masak kompakan ndak jualan semua.

Di sepanjang jalan mencari tempat sarapan, kami bercerita tentang tradisi malam tahun baru. Sahabat saya tradisi nya kalau tahun baru kumpul sama keluarga, makan bersama, nonton tivi dan sudah, tidur kalau sudah teler sebelum tengah malam. Tradisi di keluarga saya (dulu, waktu Kerajaan Campa masih berdiri) juga kurang lebih sama, nonton Srimulat atau Operet Papiko di TVRI, plus potong kue sambil minum soft drink. Nyam-nyam waktu itu. Tapi tradisi itu sudah berhenti di akhir 80 an. Selanjutnya, tak ada tradisi lagi. Tidur lebih cepat terasa nikmat daripada menghitung waktu mundur sampai penat.

Sahabat-sahabat lain masih bertradisi jalan-jalan ke Puncak atau Bandung dan melek sampai dini hari. Sedangkan sahabat yang lain masih suka duduk dan ngobrol sambil minum kopi di café sampai waktunya tiup terompet di ujung tahun. Sahabat-sahabat lainnya, mereka memilih untuk menghabiskan sisa tahun itu untuk berdzikir. Sama seperti yang dilakukan Presiden Yudhoyono di Istana Negara bersama para tamu lainnya. Begitu pula seorang artis muda berjilbab yang diwawancarai sebuah acara infotainment. Ia lebih memilih berdzikir di mesjid karena itu sudah menjadi tradisi keluarganya di setiap malam tahun baru.

Saya merenung sesaat. Tradisi malam tahun baru setiap orang ternyata sangat beragam. Tergantung kebiasaan dan kebutuhan. Tak ada hak untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi menurut saya tradisi yang baik adalah tradisi yang bisa menghargai sesama dan tidak merugikan pihak yang lain.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk minum coklat panas di satu tempat ngopi di Thamrin, tepatnya di area Djakarta Theater. Ada beberapa tempat di sana. Kami asal masuk saja, tidak perduli yang mana, tetapi saya ingat betul nama tempatnya.

Kami langsung menuju ke counter. Secangkir coklat panas, dan secangkir teh beraroma strawberry pun kami pesan. Harum sekali aroma mereka berdua. Sambil menikmati almond croissant, kami pun mulai berdiskusi lagi tentang tradisi. Dan tiba-tiba kami menyadari, bahwa kami tengah berada di tengah ruangan sebuah café yang masih berantakan. Di atas beberapa meja masih tertinggal sisa sisa pesta malam tahun baru. Gelas-gelas yang berisi sisa-sisa minuman, botol saus, piring berisi sepotong dua potong french fries, juga asbak yang penuh oleh puntung rokok. Sangat tidak nyaman.

Saya mulai ribut dan kritik sana sini. Kenapa meja-meja belum dibersihkan? Kenapa sofa-sofa masih berantakan dan bantal-bantalnya loyo dan kempot seperti habis ditiduri kucing garong? Kenapa petugasnya lelet dan tidak bisa membuat prioritas kerja yang bagus? Kenapa ada orang-orang yang punya tradisi malam tahun baruan seperti itu? Kenapa AC dinyalakan dengan kondisi pintu luar terbuka? Itu kan pemborosan energi. Kenapa begini kenapa begitu?

Sesaat kemudian terdengar bunyi denting yang membuat saya melupakan kekacauan di tempat itu. Ting!

Dan udara dalam ruangan café yang masih cakadut dan berantakan itu tiba-tiba harum oleh croissant-croissant hangat yang baru diangkat dari dalam oven. C’est magnifique!

Saya langsung beranjak ke counter dan membeli satu croissant hangat. Setiap potongan saya nikmati pelan-pelan sambil merem melek. Mmmhhhh… terasa gurihnya, lembutnya, heavenly, divine, mhhhhhh. Mak Nyus, kalau kata pak Bondan dalam acara Wisata Kuliner di Trans TV.

Saya seperti menemukan tradisi baru untuk saya pribadi. Sepotong croissant hangat di awal tahun baru. Mhhhhhh….

(Jakarta, 2 Januari 2008)

UNDERPRESSURE

Suatu sore menjelang jam pulang, saya sempat chat lewat Yahoo Messenger dengan seorang sahabat yang bekerja untuk sebuah LSM ibu anak di Aceh. Sahabat saya ini baru saja pulang dari desa Jantho, salah satu desa di Aceh Besar.

NINO: belum pulang dik?

sahabat: blm mas

sahabat: baru aja datang dari desa

NINO: desa mana?

sahabat: jantho...(salah satu kecamatan di aceh besar)

sahabat: mas nino belum pulang?

NINO: oooo

NINO: belum hbs magrib

sahabat: wah akhir tahun banyak kerjaan ya mas?

NINO: iya

NINO: dan tekanannya besar juga

sahabat: underpressure????....ihhh nggak enak bgt klo kerja dibawah tekanan...tapi kenapa ya bbrp lowongan kerja justru itu salah satu syaratnya "bisa bekerja dibawah tekanan"

NINO: hahahaah aku jg gak tahu, padahal kita cr kerja

kan

yang enjoyable ya dik

sahabat: yup

sahabat: hmmm mas nino kan orang HR hayooooo kenapa itu jadi salah satu syarat

NINO: mau tahu pendapat sinisku?

sahabat: mau mau "D

sahabat: :-D

NINO: karena boss nya gak kompeten dan maunya merintah2 , makanya dia bikin syarat itu

Lalu chat kami berlanjut dengan banyak topik sampai akhirnya kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang, saya masih merenungi komentar sinis saya tentang lowongan-lowongan pekerjaan yang mencantumkan syarat:

BISA BEKERJA DI BAWAH TEKANAN

Saya tidak bisa membayangkan kalau seseorang keluar masuk kerjaan dan selalu dapat lowongan yang ada syarat di atas. Bukan tidak mungkin lama kelamaan dia jadi bandeng presto. Lha wong ditekan terus. Tulangnya bisa lunak.

Lalu saya berpikir tentang pekerjaan saya sekarang, konsultan SDM. Beda banget dengan pekerjaan saya sebagai tukang roti waktu masih di Jogja.

Lha kok bisa nyasar jadi konsultan SDM?

Nasib yang membawaku kemari.

Untungnya, nasib belum menjadi bubur.

Hehehe

(Jakarta, 27 Desember 2007)

NO GIFT FROM SANTA FOR MOSLEM BOY

Saya berasal dari keluarga muslim yang biasa saja. Waktu saya kanak-kanak dan tinggal di pesisir pantai utara Jawa, saya dan kakak saya bersekolah di sebuah sekolah Katolik. Seperti sebuah tradisi di sekolah kami, beberapa hari menjelang natal, semuanya bersiap menyambut hari istimewa itu. Tidak terkecuali murid-murid yang beragama selain Katolik dan Kristen.

Dekorasi dan hiasan Natal dipasang di kelas, di ruang aula, bahkan pohon cemara di halaman sekolah pun juga dihias. Semarak dan hidup benar suasana sekolah kami saat itu. Dari gereja dan asrama susteran yang terletak tak jauh dari sekolah, terdengar alunan lagu-lagu rohani.

Beberapa sahabat yang merayakan Natal bercerita tentang tradisi merayakan Natal di dalam keluarga mereka. Tukar menukar kado, masak-masak istimewa serta mengunjungi handai taulan. Hmmm, rasanya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami lakukan kalau hari raya Idul Fitri tiba.

            

Kemudian seorang teman berkata kepada kami:

            

’Kalian mau dapat hadiah Natal dari Santa?’

            

Kami semua mengangguk, termasuk saya yang pada waktu itu baru pertama kali mendengar kata ’santa’. Dia menjelaskan bahwa Santa adalah sosok kakek tua baik hati, berambut dan berjenggot putih, berpakaian merah, menunggang kereta yang ditarik rusa-rusa. Di belakang kereta itu, Santa meletakkan karung ajaib berisi kado-kado untuk anak-anak.

            

’Kalau kalian mau dapat kado dari Santa, kalian harus memberi makan kepada rusa-rusa Santa.’

            

’Caranya bagaimana? Makanannya apa?’ tanya kami semua kepada si sahabat.

            

’Isi satu kaos kaki dengan rumput rumput segar. Lalu gantungkan di depan pintu rumah. Tapi ingat, kalian tidak boleh mengintip, karena rusa-rusa itu akan lari ketakutan dan Santa tidak jadi memberi kado.’

            

Semudah itu? Tanya saya dalam hati. Rasanya tidak mungkin Santa memberi kado kepada semua anak. Tetapi saya berniat mencobanya juga.

            

Sehari sebelum Natal, saya mengambil rumput di belakang rumah kami. Di belakang rumah kami, terhampar luas lapangan rumput tempat anak-anak bermain sepak bola. Di sekitarnya tumbuh rumput dan semak-semak liar. Saya bisa memetik rumput di sana. Kemudian saya mencari satu buah kaos kaki dan mengisinya dengan rumput yang sudah kupetik. Selanjutnya saya menggantungkan kaos kaki berisi rumput di depan pintu rumah. ( Waktu itu orang tua dan kakak saya bertanya untuk apa saya mengisi kaos kaki itu dengan rumput dan menggantungnya di depan pintu? Saya tidak menjawab.)

            

Malam itu, hujan turun deras dan saya tidur nyenyak.  Ketika saya terbangun paginya, saya keluar rumah dan melihat rumput yang saya masukkan di kaos kaki masih berwujud rumput dan tidak berganti menjadi kado dari Santa.

            

Saya termenung. Mengapa Santa tidak mengganti rumput itu dengan kado? Kata sahabat-sahabat saya, Santa memberi kado kepada anak-anak yang baik. Dan menurut saya, saya anak yang baik. Tidak nakal, tidak usil, menurut pada orang tua. Tapi rumput itu kok masih berupa rumput ya?

            

Ketika kutanyakan hal itu kepada temanku saat kami kembali masuk sekolah setelah liburan Natal, ia dengan ringan menjawab:

            

’Kamu kan muslim.’

            

Oo, jadi Santa tidak memberi kado untuk anak muslim ya? Dia mengangguk.

(Jakarta, sehari setelah natal,Desember 2007)

RHOMA VS ELVY…TER…LA…LU…

Idul Adha 10 Dhulhijah 14 28 barusan, saya shalat ied di lapangan Disbintalad di Berland Matraman, dekat tempat saya kos. Malam sebelumnya, hujan turun dengan deras. Sisa air hujan masih membasahi rumput-rumput di lapangan tempat shalat ied dilangsungkan. Tiga shaf depan dialasi plastik terpal, tetapi deretan shaf-shaf belakangnya tidak beralas terpal. Sehingga ketika para jamaah datang lalu menggelar sajadahnya di atas rumput kemudian duduk, sisa air hujan di rumput-rumput itu langsung meresapi sajadah dan membasahi sarung yang mereka pakai. Hal yang sama juga terjadi pada saya.

            

Jadi sepanjang duduk sebelum shalat dan saat mendengarkan khutbah, pantat saya basah karena celana saya basah sebab sajadah saya basah oleh sisa air di rumput yang basah oleh hujan semalam. Saya berusaha ikhlas, toh tidak hanya saya yang mengalami hal itu. Ratusan jamaah lain juga mengalami hal serupa. Alhamdulillah, saya bisa menerima keadaan itu.

            

Tetapi ada satu hal yang kemudian justru mengganggu saya, yaitu khutbah shalat ied. Apes apa ya si khotib? Tidak percaya diri betul dia. Dengan logat difasih fasihkan, dia meniru cara bicara artis kondang kita, si Raja Dangdut, Rhoma Irama.

            

Saya mencoba menahan diri. Wong Nabi Ibrahim saja bisa bersabar dan ikhlas saat hendak menyembelih anaknya, Ismail. Masa cuma karena ustad yang bergaya aku harus marah dalam batin? Saya harus bisa berkorban,  kalau perlu korban perasaan. Tetapi ternyata tidak semudah itu ya.

            

Handphone saya sudah terlanjur hidup. Dan sebuah pesan pendek pun terkirim ke beberapa sahabat dekat.  Bunyinya:

            

‘Kenapa sih, ustad-ustad suka sekali bergaya bicara bang haji Rhoma? Ter…la…lu…’

            

Tak lama kemudian masuklah sebuah sms balasan dari salah seorang sahabat saya. Saya membuka dan membaca pesan singkat itu. Saya terkikik pelan membaca sms itu:

            

‘Sungguh lebih terlalu kalau mereka bergaya Elvy Sukaesih.’

            

He he he bener juga. Bagaimana jadinya kalau ustad itu tiba-tiba bergaya heboh dengan make up tebal, bulu mata lentik, rambut ikal panjang, asesoris kepala dan tak ketinggalan tahi lalat di dagu serta kerling genit yang menggemaskan.

            

Basah…basah…basah…

(

Jakarta

, 20 Desember 2007, 10 Dzulhijah 1428 H)

INVASI PARA BAYI

Jujur saja, saya penyuka bayi-bayi. Apalagi bayi sehat yang gemuk, berpipi merah jambu dengan tekstur lembut dan penuh dengan tatapan mata yang bersemangat. Tangan-tangan kecil mereka yang menggapai-gapai, juga kaki-kaki mungil mereka yang bergerak-gerak menendang, bisa membuat saya semakin jatuh cinta pada mereka.

Saat saya lari pagi dan kebetulan ada bayi yang didorong di dalam kereta bayi oleh ibu atau ayahnya, biasanya saya sempatkan menoleh, tersenyum dan menyapa. Tentu saja sang ayah atau ibu yang kebetulan adalah tetangga saya, akan merespon sapaan selamat pagi saya. Mereka bersuara ( pura-pura) sebagai si bayi.

’Celamat pagi, Om. Wah ci Om yajin yayi yayi ya?’

Sambil tersenyum dan terus jogging, aku berpikir, apa iya, si bayi ambil pusing siapa aku? Terus, apa iya