KEPOMPONG PEMBUSUKAN
Hampir seminggu lebih saya buntu. Menulis malas, makan tidak nafsu tetapi untung mandi masih mau. Beberapa pesanan tulisan blog dari beberapa sahabat tak saya kerjakan. Asli, pikiran saya mandeg. Ide nyaris tidak muncul. Sepercik dua percik gagasan memang ada. Tetapi gairah untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan tidak ada sama sekali.
Sore itu tiba-tiba saya menerima sebuah sms dari seorang sahabat. Dia mengatakan sedang busuk. Kok kayak tempe aja, busuk, kata saya.
Sahabat yang mengirim sms ini adalah sahabat lama saya yang waktu saya masih tinggal di Jogja dia banyak memberi dukungan moril kepada saya. Dan ketika saya mendapati sms nya yang bernada putus asa, saya pun merasa wajib membantunya. Lalu komunikasi lewat sms-sms yang berbalasan pun dimulai.
Dalam sms nya, dia bercerita bahwa dia sedang merasa ‘busuk’. Hidup makin tidak seru dan tak ada semangat. Masalah menumpuk, tetapi dia sendiri tidak tahu pasti apa. Dan saya juga tidak tahu mengapa dia memakai kata ‘busuk’ untuk melukiskan keadaannya. Saya menyarankan kepadanya untuk menemui sahabat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Lucunya, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak punya sahabat yang bisa dia percaya enam tahun terakhir ini. ( Saya tersenyum membaca smsnya. Jadi saya termasuk dalam sahabat yang tidak bisa dia percaya untuk mendengarkan masalahnya.)
Lalu saya memberinya saran lagi untuk rela menerima situasi tersebut sampai masa pembusukan itu selesai dan selanjutnya menyiapkan diri untuk masa pembusukan berikutnya. Dia setuju. Tetapi, dia menegaskan bahwa masalahnya adalah masalah basi yang masih saja terjadi setiap waktu. Makanya dia merasa semakin busuk.
Saya mengangkat kedua alis saya sehingga kening saya yang sudah mulai keriput menjadi semakin berkerut. Dengan (mencoba) bijak, saya mengatakan, bahwa kebusukan tak selalu buruk. Keju, tempe dan yoghurt juga buah dari pembusukan. Tetapi saya tahu bahwa pembusukan yang dimaksudnya adalah sebuah kebuntuan dalam hidup. Sebuah Cul de sac. Jalan buntu yang pasti sangat mengganggu. Karena akhirnya dia mengirim pesan singkat kepada saya. Meskipun saya bukan teman yang cukup dia percaya untuknya berbagi cerita tentang masalah yang sedang mengganggunya.
Waktu saya kanak-kanak, saya senang mengamati ulat, kepompong dan kupu-kupu. Akibat mengamati ulat yang menggerogoti habis tanaman terong dan tomat nenek saya, saya jadi gatal-gatal. Lalu bagaimana bisa, ulat, binatang (atau serangga?) kecil sebesar kelingking dan gemuk berbulu yang bikin saya gatal-gatal itu bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah? Ternyata jawabannya adalah: kepompong.
Ya, sebelum bertransformasi menjadi kupu-kupu yang cantik dan gagah, ulat-ulat itu berubah menjadi kepompong dulu. Apakah sejak semula mereka memang ingin menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu? Saya tak yakin. Kalau boleh memilih, mereka mungkin ingin langsung menjadi kupu-kupu yang indah dan menghisap nektar daripada menjadi ulat-ulat gemuk yang harus menyantap daun dan sering dipatuk ayam.
Tetapi Tuhan sudah mengatur hidup menjadi demikian. Ulat harus menjadi kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu. Manusia harus melewati bayi, kanak-kanak dan remaja untuk menjadi dewasa. Dan untuk menjadi dewasa pun, perlu melalui ‘pembusukan-pembusukan’. Menghadapi masalah dan persoalan. Itulah kepompong-kepompong yang harus kita lalui sebagai individu untuk menjadi semakin bijak dan dewasa.
Sama seperti sahabat saya yang mengirim sms kepada saya sore itu dan menjerit bahwa dia sedang busuk, saya pun pernah mengalami. Tetapi sore itu saya sudah menjadi kupu-kupu. Saya merasa hari itu sedang menjadi manusia seutuhnya. Tetapi saya harus siap, besok-besok, akan ada siklus pembusukan lagi yang harus saya lalui untuk menjadi manusia yang semakin kaya.
Sahabat, mari kita nikmati saja pembusukan ini bersama-sama. Anggap saja kita sedang berada dalam kepompong pembusukan yang akan menyulap kita menjadi manusia yang semakin dewasa.
(Jakarta, 2 Agustus 2008. Untuk sahabat saya Z)

Recent Comments